Benarkah Pemerintah 'Gali Lubang Tutup Lubang' Urusan Utang?

Bagikan :


Jakarta - Utang pemerintah pada bulan April 2013 sudah mencapai Rp 2.032,7 triliun. Pemerintah harus menyiapkan anggaran khusus untuk mencicil pokok utang luar negeri. Tahun ini cicilan utang pemerintah Rp 59,2 triliun. 

Lalu darimana anggaran itu, jika ternyata APBN selalu defisit. Apakah benar, pemerintah akan mencari utang baru untuk mencicil utang sebelumnya? 

Direktur Strategis dan Portfolio Utang DJPU, Kementerian Keuangan Schneider Siahaan mengakui kebenaran hal tersebut. Artinya, dalam bahasa yang sangat sederhana, praktek ini sering disebut "gali lubang tutup lubang."

"Iya, betul lah itu (negara mencari utang untuk membayar utang)," ungkapnya kepada detikfinance, seperti dikutip Jumat (31/5/2013) Sebab, menurut Schneider sebuah negara yang defisit tidak mungkin memiliki uang untuk membayar utang. 

Sehingga, harus menambah utang dulu jika ingin membayar utang sebelumnya. "Jadi begini sepanjang kalau APBN kita masih tetap defisit berarti kan penerimaan lebih rendah dari belanja, otomatis kan kita nggak punya uang untuk mencicilnya (utang)," ujarnya Itu kemudian juga menjadi alasan, kenapa utang terus semakin besar. 

Apalagi untuk negara berkembang seperti Indonesia yang membutuhkan pinjaman besar dalam pembiayaan program baru. "Kalau APBN nya defisit. Otomatis yang kita lakukan apa, kita pinjam untuk melunasin ini, plus kita pinjam untuk defisit tadi," sebutnya. Menjadi sebuah pertanyaan, kapan praktek gali lubang tutup lubang ini akan berakhir?

"Nanti kalau kita sudah di postif. Jadi bukan defisit lagi, anggarannya positif, kan berarti kita punya uang kan, nah itu baru kita bisa melunasin, kan berarti penerimaan lebih dari belanja, kita punya tabungan ini bisalah untuk melunasi utang," jawabnya. 

Berkaca pada negara lain, cara demikian, menurutnya sangat wajar dilakukan oleh berbagai negara. Baik itu negara berkembang, maupun maju sekalipun. "Jadi jumlahnya kita membayar lagi untuk refinancing istilahnya . Itu praktek umum di sebuah negara seperti itu," ujarnya. 

Beberapa negara menyebutnya dengan istilah counter cyclical. Di mana ketika ekonomi suatu negara itu lesu, pemerintahnya akan menarik pinjaman luar negeri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Jadi negara pakai defisit, pada saat ekonominya lesu, jadi pemerintahnya yang akan mendorong supaya ekonomianya lebih baik," 

Namun, ketika ekonominya sudah tumbuh bagus, di mana negara tersebut sudah mencetak surplus, maka tidak perlu utang kemudian hari "Sebaliknya kalau ekonomi lagi bagus, pajaknya bagus, dia biasanya pakai anggaran surplus, jadi nanti kalau kita sudah bagus kita harapkan sudah surplus, jadi bersiklus," tutupnya. 
SUMBER:http://finance.detik.com/

Artikel terkait:

Comments
0 Comments

Artikel Lainnya